Selamat Datang di Blog Panyabungan

Blog ini adalah milik seorang blogger dari Panyabungan Sumatera Utara.
Mari jalan jalan ke blog teman teman dibawah ini:
Profil penulis
Bursa Buku Haji
Disini ada Dollar
Click here to get money
Kajian agama
Serba serbu
Blog Kawan Akrab
Blog Sorik Marapi
Masalah Bola
Website Basyid
Sekilas Politik
Panyabungan
Keluarga Teman
Terima kasih

Add a comment September 10, 2009
Tags: , , ,

PERKAWINAN DI MANDAILING

CARA MENIKAHI GADIS MANDAILING
Di tanah Mandailing ada suatu cara tertentu, jika kita ingin mempersunting gadis Mandailing. Antara lain adalah dengan cara:
1. Manyapai. (Gadis itu didatangi kerumahnya. Orangtuanya ditanya, apakah merelakan gadisnya untuk dinikahi).
2. Marlojong (Kawin lari)
3. Tangko binoto. (Dengan cara perempuan atau gadis Mandailing itu, lebih dahulu dibawa ke rumah calun suami. Atas persetujuan pihak calon istri, dengan pelaksanaan adat belakangan. Tapi maharnya telah ditentukan. Biasanya karena ketiadaan uang). Yang akan saya bahas lebih dulu adalah cara kawin dengan Manyapai. Sering juga disebut Manyapai boru.
1A. MANYAPAI
Cara ini biasanya dilakukan karena rasa saling percaya diri. Pihak yang menanya atau pihak laki laki, percaya bahwa kedatangan mereka akan dihargai. Atau memang karena pihak lelaki ingin dengan jalan baik baik. Biasanya seorang atau dua orang utusan akan datang dari pihak si laki laki ke pihak si perempuan apakah gadis mereka diberikan pada pihak laki laki untuk dinikahkan. Baik calon perempuannya telah ditanya calon suami secara diam diam di tengah jalan atau ditanya dengan perantaraan temannya, maupun belum. Jika jawaban telah diperoleh maka akan ditanya lagi secara syah
berdasarkan adat.
Cara menanya secara syah berdasarkan adat, biasanya akan diberitahu pihak laki laki lebih dulu pada pihak perempuan, agar pihak perempuan dapat mempersiapkan semuanya dan juga memanggil familinya yang bisa merupakan famili tempat mufakat maupun sebagai juru bicara ataupun sebagai tuan rumah yang biasa disebut suhut. Biasanya pihak laki laki akan membawa ANAK BORUnya (Atau keturunan dari saudara perempuan si ayah calon suami. Atau seorang laki laki yang menikahi saudara perempuan dari calon mempelai ini). Kemudian KAHANGGI, dan Orang tua dari calon mempelai laki laki ini. Di pihak perempuanpun akan mempersiapkan famliinya seperti yang disiapkan pihak laki laki, tapi dilengkapi dengan seorang MORA (Seorang saudara laki laki dari pihak ibu si gadis). Di dalam pertemuan ini, akan diberitahu bahwa si gadis telah menerima lamaran si laki laki. Dan pada pertemuan ini juga, akan dibahas seluruhnya tentang mahar atau tuor dalam adat Mandailing. Dalam petemuan ini, seharusnya rombongan dari laki laki telah mengetahui kekuatannya untuk menyediakan uang sebagai mahar. Jika tuor yang diminta si perempuan terlalu mahal, di pertemuan inilah dibicarakan apabila ingin diturunkan. Tentunya dengan adat yang khas pula secara adat Mandailing. Bila telah sesuai, maka rombongan dari utusan laki laki akan pulang dengan membawa hasil musyawarah. Termasuk kapan tanggal dan hari maharnya akan diserahkan pada pihak prempuan.
Bila utusan telah sampai kembali ke pihak laki laki, dan jumlah mahar sudah sama sama disetujui, maka pertemuan selanjutnya adalah pelunasan tuor. Tapi bila pihak laki laki masih merasa berat untuk
menyediakannya, biasanya masih bisa nego. Pertemuan akan diadakan lagi untuk membahas tuor ini. Bila mahar sudah sesuai, maka akan diadakan satu pertemuan untuk meyerahkan tuor atau mahar itu. Dalam pertemuan ini juga biasanya akan dirancang dan dijanjikan kapan hari pernikahan dan kapan dilaksanakan hari pesta perkawinan. Begitulah kira kira yang dikatakan dengan kawin Manyapai boru.
2. KAWIN MARLOJONG ATAU MANGALOJONGKON BORU (Akan saya terangkan pada postingan berikutnya)
3. TANGKO BINOTO (Akan saya terangkan pada postingan berikutnya)

Oleh penulis buku:

Add a comment June 4, 2009
Tags: , , , , ,

Ada apa dengan bayangmu

2. Ada Apa Dengan Bayangmu

Pagi hari setelah kejadian yang mempertemukan Christina dan Abdullah, Christina benar-benar sangat ingin bertemu dengan Abdullah. Terkadang ia sering menyangka bahwa bila ada telepon yang datang ke ponselnya, ia selalu menyangka panggilan itu dari Abdullah, tapi ternyata tidak pernah dari lelaki ini. Terkadang dia sering ingin melupakan, terkadang dia sering menganggap bahwa ia terlalu bodoh jka berharap demikian, tapi walau ia mengusir pikiran itu dari benaknya, toh selalu saja ia ingin sekali untuk bertemu. Sering sekali ia ingin mencoba meneleponnya, tapi untuk apa? Apa yang akan ia katakan? Bukankah nanti Abdullah akan mengganggap remeh padanya? Bahkan sering ia memutuskan untuk tidak meneleponnya, sebab laki-laki itu tidak seiman dengannya. Berulang kali ia mengusir pikiran itu dari dalam benaknya, tapi selalu saja datang mengusiknya, entah kenapa Christina jadi begini.
Christina memang tidak pernah berteman dekat dengan seorang laki-laki sejak ia berada di kota ini. Memang ada yang sering menggodanya, yaitu seorang bernama Yosep yang merupakan teman sekerjanya, tapi Christina tidak pernah merasa menyukainya. Kalau dipandang dari sudut agama, Yoseplah yang benar-benar seiman dengannya, tapi kalau yang namanya ia tidak menyukainya, untuk apa ia menerima tawaran Yosep untuk berpacaran dengannya.
Christinapun sering juga dibujuk ibunya agar ia mau menikah dengan anak namborunya (Saudara sepupunya dari tanah Batak), tapi dia belum pernah berpikir untuk menerimanya. Dia selalu saja mengalihkan pembicaran bila ayah dan ibunya memperbincangkan tentang hal itu. Laki-laki yang sering dibicarakan ibunya adalah seorang yang suka juga pada Christina. Yang sekampung dengan dia di Kota Parapat di Sumatera Utara. Rumahnya dan rumah orang tua Christina saling berdekatan, tak jauh dari Danau Toba yang yang cukup terkenal di seluruh dunia.
Dalam adat Batak seperti di Sumatera Utara, memang sebagusnya Christina dijodohkan dengan anak namborunya, tapi ia tetap tidak ingin membahas soal ini. Selama ini dia lebih terfokus dengan pekerjaanya. Dia ingin bekerja sebaik-baiknya, dia ingin menabung dulu, dia ingin punya uang lebih banyak dulu baru memikirkan tentang pernikahan. Ini yang membuat ia selalu menomor duakan soal-soal tentang pernikahan ini.
Christina berasal dari sebuah keluarga yang cukup rukun, hidup di dalam aturan keluarga berlandaskan ajaran Katholic yang cukup kental. Ayahnya pernah menjadi seorang pengurus gereja di kotanya, sekaligus menjadi seorang guru kepala SD. Ibunya juga seorang yang cukup taat. Ibunya menjadi ibu rumah tangga semenjak ia menikah dengan ayah Christina, hingga hari ini. Dia mengasuh Christina dengan sepenuh hati, dengan penuh kasih sayang hingga sekarang telah besar dan dewasa dan sudah mampu mandiri di kota metropolitan Jakarta.
Christina mempunyai dua orang abang, yang satu sudah menikah dan tinggal di Medan, dan yang satunya bernama Mawardi, belum menikah dan tinggal di Parapat serta serumah dengan ibu bapaknya. Beginilah kira-kira mengenai gambaran keluarga Christina di tanah asalnya.
Keluarga Christina benar-benar berbeda iman dengan kelaurga Abdulah. Abdulah berasal dari kelaurga Islam di kota Medan. Dia berasal dari kelaurga pebisnis. Ayahnya seorang kontaraktor ternama di Medan. Dari dulu ayahnya menginginkan Abdullah untuk menjadi seorang kontraktor, tapi Abdulah punya bakat yang berbeda dengan ayahnya. Dari sejak selesai menuntut ilmu di bangku SMA, ia sudah melanjutkan kuliahnya di bidang automotif. Dia sudah pernah meminta modal untuk mendirikan sebuah bengkel di kota Medan, tapi karena cita-citanya tidak sejalan dengan ayahnya, akhirnya ayahnya menunda-nunda pemberian modal padanya hingga akhirnya ia pergi merantau mengikuti temannya ke kota metropolitan ini. Dari sejak sampai kesini, dia sudah bekerja di tempat bekerjanya sekarang. Hingga hari inipun ia masih bekerja di tempat yang kartu namanya telah pernah ia berikan pada Christina.
Abdulah dibesarkan dalam keluarga yang amat besar. Dia mempunyai lima orang kakak dan seorang adek. Kelima kakaknya telah menikah semuanya. Hanya dia dan adeknya yang berjenis kelamin laki-laki yang belum sampai ke jenjang pernikahan.
Sejak sampai di Jakarta ini, Abdulah belum pernah memikirkan untuk berteman dengan perempuan. Baru kali ini ia begitu ingat dengan seorang wanita. Baru kali ini ia merasa rindu pada perempuan sejak ia berada di Jakarta ini, yaitu Christina yang pernah ia bantu ketika mobilnya mogok di tengah jalan. Tapi Abdulahpun sering membuang jauh-jauh ingatannya pada Christina, sebab ia tidak ingin bila harus menjalin kasih dengan seorang perempuan yang tidak seagama dengannya. Tapi begitupun ternyata keadaan Abdulah hampir sama dengan keadaan Christina. Mereka hanya sering mengelak dari kenyataan, tapi padahal dalam hatinya sudah ada rasa ingin untuk bertemu. Di antara mereka telah sama-sama ada keinginan yang amat sangat untuk bisa saling mengenal lebih jauh. Abdullah sering memikirkan bagaimana seandainya mobil Christina mogok lagi di tempat itu, Abdullah sering membayangkan bagaimana jika seandainya ia melihat wajah Christina. Yang mulanya nampak susah, yang mulanya nampak gundah, tapi tiba-tiba menjadi riang dan bersemangat ketika ia telah membetulkan mobil wanita ini dengan keahlian yang ia punya. Tapi segera ia tersadar, sebaiknya mobil Christina lebih baik dalam keadaan baik-baik saja. Dia berharap bisa bertemu dengan momen yang tidak merugikan bagi Christina. Tapi begitupun keduanya tetap saja tidak ada yang mengalah untuk memulai. Keduanya berdiam diri dengan keegoisan yang membuat mereka tidak jadi menelepon satu sama lain.

Ingin tahu profil penulis, kunjungi http://www.panyabungan.page.tl

Add a comment May 7, 2009

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

1 comment April 30, 2009

Pages

Categories

Links

Meta

Calendar

July 2017
M T W T F S S
« Sep    
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

Most Recent Posts